Rabu, 22 Desember 2010

Tadabbur Surat At-Takaatsur


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
[1]أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
[2]حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
[1]Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
[2]sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Ayat lengkap bisa dilihat di My Qur'an
Kata at-Takaatsur berasal dari kata katsaro كثر katsirotun كثر yang berarti banyak. Yang dimakasud dengan at-Takaatsur adalah orang yang memperbanyak-banyak. Yang dimaksud memperbanyak disini adalah memperbanyak kenikmatan, karena hal tersebut diterangkan dalam ayat terakhir (ayat ke 8) surat at-Takaatsur tersebut:
[8]ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

Apa saja yang dimaksud mengumpulkan nikmat tersebut? Memperbanyak harta, nikmat! Memperbanyak kekuasaan, jabatan, pangkat, nikmat!Memperbanyak kendaraan, atau sarana kehidupan dunia, nikmat! Memperbanyak istri, yang tidak ada nilai ibadah dan kepentingan akhirat, nikmat! Memperbanyak reputasi supaya jadi orang terkenal, nikmat! Supaya diperhatikan orang, nikmat! Dan sebagainya dan sebagainya yang menjadikan kelalaian dari mengingat Allah. Lalai beribadah kepadanya.
Allah berfirman: Surat (63:9)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Tidak Bolehkah kita untuk menikmati, nikmat-nikmat yang ada di dunia ini? Bukankah kita disuruh untuk seimbang dunia dan akhirat? Bukankah kita selalu panjatkan do'a di dunia hasanah dan di akhirat hasanah?

Dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat. Tetapi bukan tujuan utama. Tujuan utama adalah diakhirat! Kalau ditinggalkan dunia sama sekali, akhirat sudah pasti tidak dapat! Dunia saja tanpa perlu akhirat adalah zhalim. Karena itu Allah mengingatkan jangan sampai terpedaya dengan kenikmatan hidup didunia.

Allah mengkisahkan sebuah kisah Qorun dalam surat al Qoshosh ayat 76-83
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa1139, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya1140. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni'mat Allah)".

Negeri akhirat1141 itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik)1142 itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.


Kisah diatas memang suatu kisah, yang perkataan didalam kisah tersebut adalah perkataan bani Israil umat nabi Musa. Tetapi walau perkataan bani Israil. Bani Israil pengikut musa adalah Islam! Perkataannya dapat menjadikan petunjuk dan pengajaran bagi kita, karena apa yang disampaikan kepada Musa adalah wahyu Allah ta'ala juga. Jadi perkataan mengenai: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, ..." adalah ajaran yang dapat dipedomani. Banyak dikalangan orang muslim berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan perkataan bani Israil dan tidak dapat dipedomani sebagai suatu tuntunan ajaran. Walau dia perkataan dari bani Israil, tetapi untuk apa Allah subhanawata'ala mengutip perkataan tersebut dan diabadikan didalam al-qur'an kalau tidak untuk diteladani dan dipedomani pendapat dan pola pikirnya, khusus yang telah tercantum dalam al-quran. Tidak pola pikir Yahudi dan orang Israel sekarang!

Ayat selanjutnya dari surat at-Takaatsur

[2]حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
sampai kamu masuk ke dalam kubur.


Allah mengingatkan kita akan batas hidup didunia, yaitu kematian. Allah mengingatkan akan arti hidup di dunia, adalah untuk melalukan kebajikan, untuk kekal kehidupan akhirat. Seolah-olah Allah subhanahu wata'ala berkata: " Heei.., Bukan itu tujuan hidup kamu di dunia! Bukan mencari harta dan memperbanyak kenikmatan! Kamu sudah salah jalan! Ingat hidup dunia ada batasnya,... waktu, tu buktinya ada kematian, ada kuburan!"

Selanjutnya dalam surat at-Takaatsur:

[3-7]كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,an sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.


Apakah Allah hanya mengasih tahu bahwa nanti kita akan mengetahui (segalanya)? Apakah Allah hanya mengasih tahu tentang akan adanya balasan neraka jahim? Bahwa di akhirat kelak kalian akan membuktikan sendiri dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kebenaran al-Qur'an? Apakah hanya sekedar pemberitahuan akan adanya neraka jahim yang maha dasyat, tempat dibalasnya semua perbuatan yang tidak disenangi Allah sekehendaknya? Kalau hanya sekedar ini! pemberitahuan akhirat belaka! Untuk apa Allah mencantumkan sebagai ayat dan memberitahukannya sekarang? Justru Allah memberitahu bukan untuk nanti! Tetapi sekarang! Untuk kehidupan dunia yang telah melalaikan manusia dan Allah beri peringatan agar manusia sadar akan penyimpangan perilaku salah yang seharusnya tidak ia perbuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kabar dari Palestina tentang Upaya Gencatan Senjata.

Osama Hamdan: Gerakan Hamas berupaya dengan segala kekuatan dan efektivitas untuk mengakhiri perang di Gaza dan mengintensifkan upaya untuk ...