Sabtu, 28 April 2012

Pemikiran Islam Modren

Pemikir Islam Modren, masih terpengaruh dari aliran pemikiran masa klasik seperti Paham Mu'tazilah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah, atau kombinasi keduanya. Kadang seperti kurang terasa perkembangannya. Seperti Paham Mu'tazilah yang dimotori orientalis, disponsori para musuh Islam, disini banyak perkembangan lebih dimotivasi untuk merusak Islam dari pada membangun perkembangan pemikiran yang murni untuk mengabdi pada peradaban manusia. Sedangkan kelompok ahlus sunnah perkembangan pemikirannya tidak begitu nampak dikarenakan terlalu bertitik tolak kepada perkembangan ilmu fiqih dan ilmu musthalah hadits yang ada saja. Seperti paham syed ahmad khan dan Iqbal sekarang adalah reinkarnasi paham mu'tazilah yang mendewa-dewakan akal.

  1. Pemikiran Qodariyah
    Pemikiran Qodariyah ini berpendapat semua hasil baik dan buruk adalah hasil perbuatan manusia. Tidak ada campur tangan Allah SWT. Qodariyah mengatakan bahwa manusia mempunyai kuasa dan kehendak bebas untuk berbuat sesuatu, tanpa ada campur tangan Allah SWT. Faham ini diduga berasal dari Iraq, dari madrasah yang digurui oleh Hasan Al-Bashri, Sesuai dengan W. Montgomery Watt, dan Ignaz Gaoldziher, Sedangkang informasi yang datang dari orang muslim tentang asal-muasal pemikiran Qodariyah ini tidak ada yang jelas. Pemahaman Qodariyah ini mempunyai kesalahan berfikir, bahwa nyatanya manusia sangatlah terbatas kemampuannya, panca indranya terbatas, kekuatannya terbatas, dan tentunya kekuasaannya terbatas. Kira-kira mulai berdiri tahun 175 Hijriyah atau sekitar tahun 797 Masehi.


  2. Pemikiran Mu'tazilah
    Aliran pemikiran ini adalah pemikiran yang lebih mengutamakan akal dari pada wahyu. Hal ini disebabkan oleh pengaruh perkembangan filsafat barat yang atheis. Selain itu mereka mempunyai prinsip, manusia dengan akalnya dapat menentukan kebijaksanaan karena manusia dapat berpikir secara mendalam dan dewasa. Oleh karena itu paham mu'tazilah ini disebut sebagai berpaham Qodariyah, menentukan. Mereka berpikir atas dasar prinsip keadilan tuhan. Dan mereka berprinsip adanya keteraturan yang ada di alam ini, menjadi suatu hukum alam, atau Sunnatullah, yang ada pada ciptaanNya. Karena Mu'tazilah mendukung Qodariyah, maka, tidak ada batas Qodariyah, dan Mu'tazilah. Sepertinya Mu'tazilah adalah perkembangan paham Qodariyah. Tokoh-tokoh filsuf Islam yang menggali prinsip-prinsip ini seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali. kalau dilihat dari pahamnya tentunya paham ini muncul setelah paham Qodariyah.


  3. Pemikiran Jabariyah
    Jabariyah yang berasal dari kata Jabar, yang artinya menentukan. Paham Jabariyah berpendapat bahwa Allah lah yang menentukan baik dan buruknya nasib manusia. Paham ini bertentangan dengan paham Qodariyah, yang menyatakan semua perbuatan manusia karena Allah. Paham ini didirikan oleh Jaham ibn Safuan dari Khurasan, Iraq, yang muncul ketika pemerintahan bani Umayyah.


  4. Pemikiran Ibnu Taimiyah
    Ibnu Taimiyah 1263-1328, walaupun dianggap tidak pro pada keluarga rasul, oleh para penentang pemikirannya, terutama dari golongan Syi'ah, tapi ibnu Taimiyah merupakan ulama besar dan amat terpandang. Ibnu Taimiyah inilah barangkali awal-awal atau cikal bakal berdirinya paham ahlus sunnah wal jama'ah, walaupun beliau tidak secara khusus menyatakan paham tersebut, tetapi pemikirannya diikuti oleh banyak orang dan juga dikenal dengan nama Sunni.


  5. Pemikiran Azhary
    Azhary adalah pendiri mazhab ahlus sunnah wal jama'ah. Ia hidup dizaman paham Qodariyah Jabariyah dan Mu'tazilah berkembang. Azhary membantah paham-paham itu semua, dan menengahinya dengan paham kembali dengan pemahaman Rasulullah dan Sahabat, pemahaman ini dikenal dengan nama pemahaman sunni azhariyah. Azhari adalah murid Ibnu Taimiyah. Azhary berpendapat bahwa manusia diberikan Allah kebebasan untuk berusaha menghindari sesuatu yang buruk terjadi padanya, tetapi tetap tidak dapat terlepas dari pada takdir Allah SWT. Azhary membantah pendapat Qadariyah yang menyatakan segala sesuatu yang terjadi pada manusia, adalah akibat atau hasil dari perbuatan manusia sendiri, tanpa campur tangan Allah di dalam nya. Sedangka Azhary mengatakan segala sesuatu tidak terlepas dari kuasa dan izin Allah SWT. Azhary sekaligus membantah paham Jabariyah yang mengatakan segala sesuatu tergantung pada Allah SWT, hasil usaha manusia tidak ada, selain Allahlah yang berkehendak. Azhary membantah pendapat tersebut dengan mengatakan Allah berbuat segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya, termasuk memberi izin orang yang berusaha, memberikan rizki, termasuk juga mengabulkan do'a bagi yang berdo'a.


  6. Pemikiran Ibnul Qoyim Al Jauzi
    Ibnul Qoyim Al Jauzi, adalah Ulama besar, murid Ibnu Taimiyah. Dari latar belakangnya sebagai murid Ibnu Taimiyah, sudah dapat ditebak pahamnya adalah Ahlul Sunnah wal Jama'ah. Dari beliaulah diketahui pemikiran-pemikiran gurunya Ibnu Taimiyah, karena gurunya tidak menulis buku. Buku-buku tentang Ibnu Taimiyah adalah karangan Ibnul Qoyim Al Jauzi. Ibnul Qoyim Al Jauzi, banyak berpendapat dengan sunnah-sunnah nabi, oleh karena itu dia sebagai ulama yang berpaham Sunni, yang banyak dikutip oleh ulama-ulama yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Pemikirannya banyak mengajarkan tentang kepribadian muslim, akhlak, dan Aqidah.Buku-buku yang ditulisnya antara lain, berjudul Ruh, Minhaj As Sunnah Ibnu Taimiyah.


  7. Pemikiran Muhammad Abduh
    Muhammad Abduh adalah seorang ulama modren, yang pemikirannya banyak kearah mu'tazilah. Muhammad abduh sendiri bersemangat memperjuangkan Islam karena ajakan dan nasehat serta pengaruh dari Jamaluddin Al Afghani, seorang ulama yang berasal dari Asia tengah, Afghanistan. Muhammad Abduh lahir di Cairo, Mesir, pada tahun 1849 dan meninggal pada Juli 1905. Muhammad Abduh sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan (saintifik), dalam memperdalam agama Islam. Muhammad Abduh yang pernah pendapat pendidikan tinggi di Paris, Perancis ini, sakingkan bersemangatnya menafsirkan Qur'an dengan ilmu pengetahuan modren, sehingga ia menafsirkan Jin sebagai Jasad renik yang bisa dilihat melalui mikroskop. Menafsirkan Jin sebagai suatu Jasad renik adalah suatu kesalahan dan bertentangan dengan keterangan hadits yang diberitakan oleh Rasulullah saw. Berkembangnya ilmu pengetahuan modren di barat, barangkali yang banyak mempengaruhi pemikiran Muhammad Abduh ini. Pemikiran Islam mu'tazilah qadariyah sangat kental dalam nuansa pemikirannya. Sejumlah artikel telah dibuatnya dalam bulettin Urwatul Utsqo, yang ia buat dan selama berada di Paris, dan terbit dari Paris. Buku penting yang telah ia buat adalah Risalah Tawhid, yang menjadi rujukan pengikut pemikirannya sampai sekarang.


  8. Pemikiran Rasyid Ridha
    Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang yang dianggap pembaharu Islam, karena pengikut pemikiran Muhammad Abduh dan Jammaluddin Al Afghani. Muhammad Rasyid Ridha berasal dari Suryah, lahir di Libanon pada tahun 1865 dekat dengan kota Tripoli, Suriyah. Ia seorang bangsawan yang mempunyai keturunan nasab sampai pada cucu Rasulullah saw. Karena kuatnya keinginan untuk mempelajari pemikiran Jamaluddin Al Afghani, ia berkeinginan bertemu dengan Jamaluddin Al Afghani, tetapi tuhan tidak mengizinkan karen Jamaluddin Al Afghani sudah lebih dahulu meninggal dunia sebelum keinginannya terkabul. Tetapi sejak dia hijra ke Mesir, Ia sempat bertemu dengan Syekh Muhammad Abduh, dan berkonsultasi dengan beliau. Di Mesir, Muhammad Rasyid Ridha membuat Majalah Al Mannar, adalah kelanjutan dari Buletin Urwatul Utsqo yang diterbitkan dari Paris Oleh Syekh Muhammad Abduh.Diantara pemikiran Muhammad Rasyid Ridha adalah mengatakan bahwa doa bukanlah sesuatu sarana untuk meminta kepada Allah, tetapi hanya merupakan suatu ibadah yang ada dalam Islam. Pemikiran seperti ini salah karena salah satu fungsi tuhan bagi manusia adalah tempat meminta selain beribadah kepadanya, dalam surat al fatihah dijelaskan iyaaka na'budu wa iyaaka nasta'iin: Kepada engkau kami mengabdi dan kepada engkau kami meminta.


  9. Pemikiran Sayyid Ahmad Khan
    Sayyid Ahmad Khan adalah seorang pengkhianat bangsa India, yang bersekutu dengan penjajah Inggris. Ia rela meninggalkan agama asalnya Islam demi penjajah Inggris. Demi kenaikan pangkat ia menulis buku tentang kristen dengan mengatakan bible asli tidak pernah berobah oleh tangan manusia. Tetapi penjajah tidak percaya padanya. Inggris memanfaatkan dirinya untuk menyusup dan memutar balikkan ummat aqidah ummat Islam. Ia kembali ke India, mendirikan sekolah Islam Muhammadiyiin, yang didanai oleh Inggris. Sekolahnya didirikan untuk merusak ajaran Islam, dengan penafsiran menyimpang, menolak kenabian, mu'jizat, dan menulis Tafsir Al Qur'an dengan tafsiran yang ia beri istilah Nature, alamiah.

    Walau demikian, banyak juga, muslim terpengaruh akan tipu dayanya, dan menganggap ia sebagai ulama besar abad itu. Padahal pemikirannya tidak ada yang baru selain mengulang-ulang pendapat Mu'tazilah, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Dibantu dengan propaganda penjajah Inggris yang mengelu-elukan Sayyid Ahmad Khan sebagai ulama pembaharu Islam. Sayyid Ahmad Khan, lahir di Delhi, India, pada tahun 1817, ia salah seorang keturunan bangsawan dan mempunyai darah keturunan ahlul bait dari Fatimah.


  10. Pemikiran Muhammad Iqbal
    Muhammad Iqbal adalah seorang seniman dan filsuf. Banyak juga orang mengambil pendapatnya sebagai pemikiran Islam karena, ia berpuisi dan berpikiran Islam, selalu mencontoh ulama sufi Jalalluddin Ar-Rummi. Ia lahir di Sialkot, India, sekarang jadi wilayah Pakistan, tahun 1877. Mendapat pendidikan akademi di Government College, Lahore. Kemudian melanjutkan studinya di Universitas Cambridge di London. Karena dia berpendidikan tinggi dan selalu menulis puisi Islam, maka sekarang banyak yang mengkaji pemikirannya melalui buku dan puisi-puisinya. Iqbal berpikir sama seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, hanya saja pemikirannya tidak sama seperti, pemikir modren sebelumnya, tetapi lebih cenderung kepada filsafat Islam.


  11. Pemikiran Wahiduddin Khan
    Wahiduddin Khan lahir di Azamgarh, Uttarprades, India, pada 1 januari 1925, tercatat sebagai aktifis Islam yang masih hidup sampai sekarang. Wahiduddin Khan adalah seorang pemikir Islam, abad modren. Ia selalu mengkaitkan penafsiran al Qur'an dengan Sains modren. Ia berpendapat alam ini sangat teratur, dan dipenuhi ketentuan-ketentuan yang akurat, yang ia tafsirkan sebagai sunnatullah. Banyak buku-buku yang ditulis beliau, Tafsir Qur'an Tazkirah, dan memberi ceramah dan kuliah diberbagai tempat, seperti ARY TV Digital, Zee TV, QTV, dan lain-lain. Pemikirannya cukup terbuka dan luas, sehingga banyak mempengaruhi muslim disana. Pemikirannya hampir mirip dengan pemikiran Abul A'la Al Maududi, seorang pemikir dan pejuang Islam di India, Sekarang jadi Pakistan. Pemikiran Wahiduddin Khan banyak mengkritik Islam yang taklid buta dan tidak sesuai lagi dengan zaman modren sekarang.


  12. Pemikiran Abul A'la Al Maududi
    Abul A'la Al maududi lahir di Aurangabad, Hyderabad Deccan, Pakistan, dulu India, pada 25 September 1903, dan meninggal tanggal 22 September 1979. Ia adalah seorang Wartawan, tokoh politik, pemimpin partai jama'at al Islami di India. Ia memandang, banyak orang beragama Islam tetapi tidak mengerti hakikatnya sebagai agama Islam. Hanya sekedar nama sekelompok orang saja tetapi tidak mengerti arti dari menerima Islam sebagai agamanya. Ceramah-ceramahnya banyak menekankan pentingnya aqidah dan beriman dalam arti yang sebenarnya. Karena hidup pada masa penjajahan dan perjuangan politik, banyak sekali materi-materi ceramah dan buletin yang ia tulis tentang pentingnya berjuang dan hakkikat Jihad dalam Islam.


  13. Pemikiran Islam di Indonesia

  14. Pemikiran Muhammadiyah
    Muhammaddiyah Indonesia, adalah suatu organisasi sosial dan ekonomi Islam, pembaharu pemikiran Islam. Pemikiran Islamnya banyak dipengaruhi pemikiran filsafat mu'tazilah, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Sampai pada pemikiran Sayyid Ahmad Khan.


  15. Pemikiran Nahdhatul Ulama
    Nahdatul Ulama di Indonesia, tidak mau terpengaruh pemikiran mu'tazilah dan pemikiran pembaharuan Islam seperti Muhammad Abduh, tetapi lebih beranggapan bahwa pemikiran tradisional lama adalah asli dan harus dipertahankan kemurniannya. Tetapi banyak pelaksanaan Islam di Nahdatul Ulama, yang menyimpang dari ajaran Islam yang masih juga dipertahankan, seperti tradisi menujuh hari kematian, dipertahankan sebagai suatu tradisi.


  16. Pemikiran Salafiyah
    Salafiyah adalah sebuah jamaah pengajian, yang pemikirannya, mengembalikan pada sunnah-sunnah nabi, dan para shahabat. Jama'ah salafiyah menentang tradisi yang bertentangan dengan Islam seperti menujuh hari kematian. Anti pada pemikiran-pemikiran modren dan menganggapnya sebagai suatu bid'ah dalam agama. Salafiyah mengikuti paham Ibnu Taymiyah dan Azhary, bermazhab Hambali, walaupun mereka tidak mengikuti benar mazhab hambali, tetapi mereka membuat mazhab sendiri. Di Arab Saudi awal mula tumbuhnya pergerakan jama'ah salafiyah ini, tidak terlepas dari pergerakan Wahabi.


3 komentar:

  1. imam Ahlussunnah wal jama'ah IMAM ABU HASAN AS-YARI itu bermadzhab Imam AS-SYAFI'I dan bukan murid IBNU TAIMIYAH karena pandangan PAHAM Mereka pun berbeda, mereka juga hidup pada zaman yang berbeda jauh, imam As-yari pada tahun 260H, ibnu Taimiyah skitar akhir tahun 600H

    BalasHapus
  2. sumbernya dari mana,, ngarang semua..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua tulisan, baik ilmiah maupun tidak, pada dasarnya adalah ngarang, sumber banyak bisa cari di Internet, saya hanya menyusun dan meramu hingga menjadi lebih sistematis, praktis dan enak dibaca serta perlu. ada juga dibuku, tapi saya belum sempat cantumkan sumbernya, nikmati saja dulu sajiannya.

      Hapus

Kabar dari Palestina tentang Upaya Gencatan Senjata.

Osama Hamdan: Gerakan Hamas berupaya dengan segala kekuatan dan efektivitas untuk mengakhiri perang di Gaza dan mengintensifkan upaya untuk ...